Penulis: Aliftya | Editor: Handa

Berbeda dari para nabi yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri, seorang rasul memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada umat-Nya. Oleh karena itu, para rasul pun memiliki sejumlah keistimewaan dalam hal sifat. Pada konteks ini, mereka tidak mungkin memiliki sifat-sifat tercela atau buruk.

Nah, lalu apa saja ya sifat-sifat mustahil bagi para rasul ini? Yuk, ajak si kecil untuk cari tahu lewat artikel Catatan Bunda berikut ini. Jangan lupa beri penjelasan singkat kepada mereka tentang sifat-sifat mustahil tersebut ya, Bunda.

1. Kidzib.

Sifat mustahil pertama bagi rasul adalah kidzib yang berarti bohong atau dusta. Penjelasan mengenai sifat ini tertuang dalam surat An-Najm ayat 2-4 yang berbunyi:

Maa dalla saahibukum wa maa ghawaa; Wa maa yanthiqu ‘anilhawaaa; In huwa illaa Wahyunii yuuhaa.

Artinya: “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru; Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

Oleh karenanya, apa yang dikatakan dan diperbuat oleh para rasul sejatinya adalah kebenaran.

2. Khianat.

Khianat adalah lawan dari sifat amanah yang dimiliki oleh rasul. Ia memiliki arti tidak dapat dipercaya. Dalam hal ini, tidak akan mungkin seorang rasul akan berlaku curang atau ingkar janji atas tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Paparan mengenai sifat rasul yang satu ini dapat ditemui dalam surat Al-Anam ayat 106 yang mana berbunyi:

Ittabi’ maaa uuhiya ilaika mir Rabbika laaa ilaaha illaa Huwa wa a’rid ‘anil mushrikiin.

Artinya: “Ikutilah apa yang telah diwahyukan Tuhanmu kepadamu (Muhammad); tidak ada tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

3. Kitman.

Sifat mustahil selanjutnya ialah kitman yang mana berarti menyembunyikan. Seperti yang telah kita pahami, para rasul ditugaskan oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyu. Dengan demikian, tidak mungkin bagi seorang rasul untuk mengurangi dan bahkan menyembunyikan wahyu Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 174:

Innal laziina yaktumuuna maaa anzalal laahu minal kitaabi wa yashtaruuna bihii samanan qaliilan ulaaa’ika maa yaakuluuna fii butuunihim illan Naara wa laa yukallimu humul laahu Yawmal Qiyaamati wa laa yuzakkiihim wa lahum ‘azaabun aliim.

Artinya: “Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya, dan Allah tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih.”

Penjelasan mengenai sifat mustahil yang satu ini juga terdapat pada surat Al-Anam ayat 50 yang mana berbunyi:

Qul laa aquulu lakum ‘indii khazaa-inu allaahi walaa a’lamu alghayba walaa aquulu lakum innii malakun in attabi’u illaa maa yuuhaa ilayya qul hal yastawii al-a’maa waalbashiiru afalaa tatafakkaruuna.

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang di wahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya).”

4. Baladah.

Terakhir, sifat mustahil bagi rasul adalah baladah atau bodoh. Sebagai penerima wahyu sekaligus penyebar ajaran Islam, tidaklah mungkin para rasul tak memiliki pengetahuan yang memadai. Penjelasan mengenai sifat tersebut termaktub dalam surat Al-Araf ayat 199 sebagaimana berikut:

Khuzil ‘afwa waamur bil’urfi waa’rid ‘anil jaahiliin.

Artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

Demikian, empat sifat mustahil bagi rasul yang perlu untuk diketahui si kecil ya, Bunda. Semoga dengan memahami sifat-sifat ini anak-anak dapat meneladani perilaku para rasul.

Baca juga:

Sumber