Penulis: Aulia Elsa | Editor: Handa

Ketika sedang menjalankan ibadah puasa, banyak hal-hal yang bisa menyebabkan puasa jadi batal, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Hal-hal yang bisa membatalkan puasa antara lain makan dan minum dengan sengaja, datang bulan, muntah dengan sengaja, termasuk juga aktivitas seksual.

Salah satu aktivitas seksual yang sering dipertanyakan adalah mastrubasi. Lantas, apakah mastrubasi bisa membatalkan puasa? Yuk Bunda simak penjelasan di bawah ini untuk mengetahuinya.

Hukum Mastrubasi saat Puasa

Mmastrubasi adalah proses mendapat kepuasan seks tanpa berhubungan kelamin. Mastrubasi juga dikenal sebagai onani yang merupakan rangsangan fisik terhadap alat kelamin untuk mendapat kepuasan tersendiri.

Pembahasan tentang mastrubasi ini juga terdapat dalam Kitab Al-Majmu’ yang berbunyi: “Bila seseorang melakukan onani dengan tangannya-yaitu upaya mengeluarkan sperma-, maka puasanya batal tanpa ikhtilaf ulama bagi kami sebagaimana disebutkan oleh penulis matan (As-Syairazi),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz VI, halaman 286).

Pendapat lain tentang hukum mastrubasi saat puasa yaitu:

  • Puasa bisa batal dalam kondisi tertentu. Mastrubasi bisa menyebabkan batalnya puasa jika dilakukan di kondisi tertentu. Imam Nawawi dalam Al Majmu’ berkata: “Jika seseorang mencium atau melakukan penetrasi selain pada kemaluan istri dengan kemaluannya atau menyentuh istrinya dengan tangannya atau dengan cara semisal itu lalu keluar mani, maka batallah puasanya. Jika tidak, maka tidak batal.” (6: 322)
  • Mastrubasi menghilangkan pahala puasa. Pendapat ini menerangkan kalau mastrubasi tidak membatalkan puasa, namun tidak akan dapat pahala puasa tersebut. Namun pendapat ini lemah sehingga wajib mengganti puasa sebelumnya karena puasanya dianggap batal. Hadits dari Yaziid bin Haaruun, dari Habiib, dari ‘Amru bin Harim, ia berkata: “Jaabir bin Zaid pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang memandang istrinya di bulan Ramadhan, lalu ia keluar mani akibat syahwatnya tersebut, apakah batal puasanya?. Ia berkata: “Tidak, hendaknya ia sempurnakan puasanya.” (HR Ibnu Abi Syaibah)
  • Mendapat dosa dan tidak mendapat kebaikan puasa. Kalau saat puasa melakukan mastrubasi dengan sengaja sedangkan Bunda memahami bagaimana hukumnya, maka Bunda mendapat dosa dan puasanya dianggap batal. Setelah itu, wajib bertaubat kepada Allah SWT.

Menurut pendapat Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa (25/225-226) menyebutkan, karena yang rajah/kuat tidak disyariatkan bagi yang meninggalkan puasa atau membatalkan puasanya secara sengaja untuk mengqadha, dan tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu.

Pendapat para ulama mengenai mastrubasi saat puasa

Beberapa ulama juga memiliki pandangan tersendiri mengenai mastrubasi, apakah membatalkan puasa atau tidak. Pendapat para ulama antara lain:

  • Dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji karya Musthofa Khan dan Musthafa al-Bugha, disebutkan bahwa: “Istimna’ (onani atau manstrubasi) adalah berusaha mengeluarkan mani secara langsung atau dengan tangan. Jika dilakukan secara sengaja oleh orang yang berpuasa, maka membatalkan puasa. Adapun jika tidak sengaja, maka tidak akan membatalkan puasa.”
  • Syekh Abu Bakar Syatha menjelaskan bahwa: “Puasa itu batal sebab melakukan onani, yaitu berusaha mengeluarkan mani tanpa melalui jimak atau hubungan intim, baik onani yang haram, seperti mengeluarkan mani dengan cara menggerakkan kemaluan dengan tangannya sendiri, atau onani yang mubah, seperti meminta tolong istri melakukan onani dengan tangannya, atau menyentuh kulit seseorang yang membatalkan wudhu bila persentuhannya tanpa penghalang.”
  • Imam Ar-Rafi’i mengatakan: “Mani yang dikeluarkan dengan onani, membatalkan puasa. Karena jika hubungan intim tanpa terjadi keluar mani statusnya membatalkan puasa, maka onani dengan mencapai syahwat puncak lebih layak untuk membatalkan puasa.” (Syarh Al-Wajiz Ar-Rafii, 6/396)

Itulah beberapa penjelasan mengenai mastrubasi apakah membatalkan puasa atau tidak. Penjelasan di atas diambil berdasarkan pendapat para ulama dan juga hukum mengenai mastrubasi saat puasa.

Alangkah baiknya selama beribadah puasa dijalankan dengan sebaik-baiknya dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa bahkan sampai menghilangkan pahalanya. Lebih baik melakukan hal yang bermanfaat dan meninggalkan hal-hal yang berdosa.

Baca juga: