Penulis: Annisa | Editor: Aufia

Kepercayaan adalah salah satu kunci dalam sebuah hubungan. Entah itu hubungan persahabatan, hubungan pertemanan apalagi hubungan suami istri. Kalau kepercayaan ini dikhianati, jangankan berkomunikasi dengan si pengkhianat lagi, bertemu dengan orang yang mirip dia pun bisa jadi Bunda ragu.

Pernahkah Bunda merasa seperti ini? Dikhianati oleh pasangan lalu takut untuk memulai hubungan baru dengan orang lain? Kalau pernah mengalami hal ini, bisa jadi Bunda tidak hanya punya trust issues, tetapi juga punya fobia yang bernama Pistanthrophobia.

Apa Itu Pistanthrophobia?

Pistanthrophobia adalah rasa takut untuk mempercayai seseorang karena sebelumnya pernah merasakan sakit hati dan kecewa berat dalam hubungan romantis. Fobia sendiri adalah rasa cemas dan takut yang berlebihan terhadap seorang manusia, hewan atau objek lainnya. 

Fobia dalam bentuk apapun, termasuk pistanthrophobia tetap dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebab dalam pistanthrophobia, Bunda tidak hanya ragu atau takut dalam memulai hubungan baru tetapi juga menggunakan segala cara untuk menghindari berkembangnya hubungan baru tersebut. Akibatnya, Bunda jadi gagal move on dan tidak bisa mengkoreksi apa yang salah dengan hubungan sebelumnya.

Gejala Pistanthrophobia

Kurang lebih gejala Pistanthrophobia sama seperti jenis fobia lainnya, hanya saja dalam fobia jenis ini pemicunya adalah orang. Beberapa gejala umum tersebut adalah:

    • Panik karena sesuatu yang tidak rasional (susah dijelaskan).
    • Benar-benar tidak mau dekat dengan orang atau objek yang bisa menjadi pemicu. 
    • Nafas tersengal-sengal.
    • Detak jantung berlarian.
    • Tubuh gemetar.

Adapun gejala khusus yang biasanya dialami oleh fobia jenis ini seperti:

    • Menghindari percakapan yang terlalu dalam dengan orang yang Bunda pikir menyukai Bunda.
    • Defensif atau bahkan menarik diri dari percakapan.
    • Tidak menanggapi rayuan dan gombalan dari lawan jenis.

Cara Mengatasi Pistanthrophobia

Bunda perlu datang ke psikiater atau psikolog untuk diagnosa atau mengobati Pistanthrophobia. Hal ini karena mereka akan membantu Bunda untuk move on dengan cara-cara terapi profesional seperti, exposure and response prevention, terapi perilaku kognitif dan terapi psikodinamis. 

Sebelum sesi terapi dimulai, biasanya Bunda akan ditanyai mengenai latar belakang keluarga, hubungan sebelumnya, berapa lama merasakan fobia ini, apa dampak Pistanthrophobia terhadap hidup Bunda dan sebagainya. Tujuannya supaya terapis mendapatkan gambaran mengenai apa yang Bunda alami dan bagaimana cara mengatasinya. 

Umumnya saat menangani fobia, terapis akan meminta pasien untuk membayangkan hal-hal yang berhadapan langsung dengan fobianya tersebut. Dalam hal ini Bunda akan diminta untuk membayangkan bagaimana seandainya Bunda sedang membangun hubungan romantis yang baru dengan pacar atau suami baru. 

Rasa ragu untuk memulai hubungan yang baru setelah sebelumnya dikhianati itu tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Terapis seperti psikolog atau psikiater hanya akan membantu Bunda untuk berdamai dan menerima rasa sakit yang telah lalu sehingga toleransi terhadap rasa sakit tersebut berkurang dan kualitas hidup Bunda jadi lebih baik. 

Baca Juga:

Sumber