Penulis: Elvira Yolanda | Editor: Handa

Bunda, banyak aktivitas yang bisa dilakukan sambil menanamkan pesan baik kepada si kecil, lho. Salah satunya membacakan dongeng kepada anak. Aktivitas menyenangkan dan mengedukasi ini bisa Bunda lakukan sebelum si kecil tidur.

Salah satu dongeng yang bisa Bunda ceritakan pada si kecil adalah Dongeng Timun Emas dan Raksasa. Dongeng ini menceritakan tentang bagaimana kerja keras tidak akan mengkhianati hasil, seperti yang dilakukan Mbok Srini dan Timun Emas dalam menyelamatkan diri dari Raksasa.

Penasaran bagaimana ceritanya? Langsung kita baca bareng-bareng yuk Bund!

Mbok Srini, seorang janda paruh baya yang menginginkan anak untuk mengisi kesepiannya

Dahulu, hiduplah seorang janda paru baya bernama Mbok Srini. Suaminya telah meninggal dunia beberapa tahun silam. Kesehariannya hanya mengambil kayu di hutan, ia merasa kesepian. Ia ingin sekali memiliki anak untuk menemani rasa sepinya itu.

Hingga suatu hari, harapan itu terjawab melalui mimpi. Dalam mimpi Mbok Srini, ia bertemu dengan raksasa dan mendapat pesan untuk mengambil sebuah bungkusan di bawah pohon, di hutan tempatnya biasa mengambil kayu. Raksasa itu berkata bahwa harapannya ada di dalam bungkusan tersebut.

Menaruh harapan pada Raksasa, Mbok Srini pergi ke hutan sesuai dengan mimpinya

Setibanya di Hutan, Mbok Srini segera mencari bungkusan yang dikatakan oleh Raksasa itu. Ia menemukan bungkusan dekat pohon yang ia kira adalah bayi, ternyata hanyalah sebutir biji timun. Ia pun kebingungan.

Raksasa besar itu sudah berdiri di belakang Mbok Srini sembari tertawa terbahak-bahak. “Ha.. ha.. ha..” Demikian suara itu terdengar.

Mbok Srini terkejut mendengar suara besar itu, ia pun berbalik dengan rasa takut yang dimilikinya. “Ampun tuan Raksasa! Jangan makan aku, aku masih ingin hidup,” ucapnya sambil gemetar.

“Jangan takut, aku tidak akan memakanmu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak?” Tanya Raksasa kepada Mbok Srini.

“Be..benar, Tuan Raksasa.” Jawab Mbok Srini ketakutan.

“Cepat tanam biji timun itu! Kelak kamu akan mendapatkan anak, tapi ingat! Kau harus menyerahkan anak itu kepadaku saat dia sudah besar. Akan aku jadikan santapanku.” Ucap raksasa.

Keinginan Mbok Srini yang begitu besar untuk memiliki seorang anak, tanpa sadar ia menyetujui ucapan Raksasa besar itu. “Baik Tuan Raksasa, aku akan menyerahkan anakku padamu.”

Mbok Srini menantikan kehadiran anak dengan merawat baik biji timun

Selama dua bulan, Mbok Srini dengan sabar merawat timun yang ditanamnya. Timun itu semakin besar, melebihi ukuran timun yang biasanya. Timunnya pun berwarna emas.

Setelah timun itu matang, dipetik dan dibawanya timun itu dengan hati-hati oleh Mbok Srini pulang ke gubuknya. Dengan hati-hati, Mbok Srini membelah timun yang berukuran besar itu. Betapa terkejutnya ia setelah membelah Timun Emas itu, ia mendapati seorang bayi cantik. Ketika hendak menggendongnya, bayi itu pun menangis.

Mbok Srini kembali didatangi oleh Raksasa lewat mimpi

Betapa bahagianya Mbok Srini karena akhirnya memiliki seorang anak perempuan yang tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Ia menamainya Timun Emas.

Malamnya, Mbok Srini kembali didatangi Raksasa melalui mimpinya. Dalam mimpinya, Raksasa itu berkata akan mengambil anak perempuan itu minggu depan. Karena mimpi itu, Mbok Srini merasa sedih.

Timun Emas memperhatikan Ibunya selalu terlihat sedih. Sore hari, ia bertanya “Ibu kenapa akhir-akhir ini kau bersedih?”

Mbok Srini enggan memberitahukan alasannya kepada Timun Emas. Namun, karena terus didesak dan Mbok Srini tidak ingin melihat anak semata wayangnya ikut bersedih, akhirnya ia menceritakan rahasia yang selama ini dipendamnya.

“Maafkan Ibu karena merahasiakannya selama ini dari mu, Timun. Sebenarnya kamu bukan anak kandung Ibu.” Kata Mbok Srini kepada Timun Emas

Raksasa datang untuk mengambil Timun Emas

Raksasa datang ke gubuk Mbok Srini saat matahari mulai senja, “Mana anak itu, Perempuan Tua! Aku ingin segera menyantapnya,” Ucap raksasa itu.

“Timun Emas sedang sakit keras, pasti tidak lezat ketika kau santap. Lebih baik kau datang lagi tiga hari kemudian.” Kata Mbok Srini dengan harapan ia dapat mengulur waktu.

Raksasa itu pun pergi setelah membuat janji bahwa ia akan kembali lagi tiga hari kemudian. Setelah raksasa pergi, Mbok Srini kembali berpikir untuk mencari cara agar Timun Emas selamat dari Raksasa itu.

Mbok Srini bertemu dengan sang pertapa

Pagi harinya, Mbok Srini berangkat ke Gunung untuk menemui sang pertapa. Pertapa memberikan 4 bungkus yang berisi biji timun, garam, terasi, dan jarum.

“Berikan ini kepada anakmu. Jika ia bertemu dengan raksasa itu, sebarkanlah isi bungkusan ini kepada raksasa,” Ucap sang pertapa kepada Mbok Srini.

Sesampainya di gubuk, Mbok Srini memberikan bungkusan itu kepada anaknya dan menjelaskan tujuan bungkusan itu kepada Timun Mas. Mbok Srini merasa sedikit tenang karena anaknya memiliki senjata untuk melawan Raksasa itu.

Raksasa kembali mendatangi gubuk Mbok Srini dan Timun Mas

Raksasa sudah tidak sabar untuk menyantap Timun Emas. Namun, saat hendak ditangkap, Timun Emas lari sekencang-kencangnya. Raksasa pun mengejar Timun Emas. Bungkusan pertama yang berisi jebakan pun ia sebarkan ke arah Raksasa, tapi raksasa berhasil keluar dari jebakan tersebut.

Timun Emas masih berlari kencang, ia kembali menyebarkan jebakan dari bungkusannya yg kedua. Namun, Raksasa masih lolos dari jebakan itu. Tidak pantang menyerah, Timun Emas kembali menyebarkan jebakan dari bungkusan itu untuk ketiga kalinya. Namun masih gagal juga.

Timun Emas hanya memiliki kesempatan terakhir, satu jebakan masih ada dalam bungkusan itu. Ia kembali menyebarkannya, tak disangka jebakan itu berhasil. Raksasa tidak bisa menyelamatkan dirinya dari jebakan terakhir milik Timun Emas.

Setelah Raksasa lenyap, Timun Emas kembali kepada ibunya. Mbok Srini sangat bersyukur bahwa anaknya selamat dan kembali ke dalam pelukannya. Akhirnya mereka pun hidup bahagia.

Pesan moral yang bisa Bunda sampaikan kepada si kecil, yaitu usaha yang dilakukan Mbok Srini dan Timun Emas demi kehidupan mereka patut dicontoh dalam kehidupan sehari-hari. Jangan mudah menyerah dan teruslah berusaha.

Baca juga:

Sumber