Penulis: Irma | Editor: Aufia

Mendekatkan diri dengan si buah hati bisa dengan berbagai cara, lho Bunda! Mendongeng adalah salah satu contohnya! Yup, membacakan dongeng bisa jadi quality time Bunda dengan si kecil. Sekaligus Bunda juga bisa memberikan pemahaman moral lewat sebuah dongeng.

Bunda sendiri apakah ingat tentang dongeng-dongeng zaman dahulu? Sebenarnya banyak sekali dongeng anak Nusantara yang bisa Bunda bacakan untuk si kecil. Mulai dari cerita rakyat hingga fabel. 

Bunda mau mencoba mendongeng? Yuk Bund, kali ini ceritakan dongeng Malin Kundang si Anak Durhaka yang telah Catatan Bunda rangkum ini!

Awal Mula Cerita

dongeng malin kundang

Pada awalnya hiduplah pasangan Bunda dan Ayah dengan anak semata wayangnya, bernama Malin Kundang. Keluarga mereka bukanlah keluarga kaya raya. Mereka hidup dengan keterbatasan dan kurang berkecukupan.

Guna merubah nasib keluarga, sang Ayah akhirnya bekerja merantau ke kota besar. Sang Ayah ingin menafkahi istri dan anaknya dengan lebih baik. Tinggalah sang Bunda yang bernama Mande Rubayah berdua saja dengan Malin Kundang.

Hidup yang serba kekurangan, membuat keadaan semakin genting kala Malin Kundang jatuh sakit. Mande Rubayah tetap menyayangi dan berusaha sekuat tenaga agar Malin sembuh. Meskipun ia tidak bisa meminta bantuan siapapun.

Singkat cerita Malin sembuh dari sakit, hubungan antara Bunda dan Anak itupun semakin erat. 

Ibu, Ibu, Malin ingin mencari ikan, ya, Bu?”, Ucap Malin di suatu hari yang cerah. 

Iya, Nak, hati-hati.

Dikisahkan bahwa Malin Kundang adalah anak lelaki yang pintar dalam menangkap ikan. Sehingga, Malin mampu membantu Ibunda-nya di rumah.

Malin Kundang yang Durhaka

Bertahun-tahun kemudian, ayah dari Malin Kundang tidak kunjung memberikan kabar. Mande Rubayah merasa cemas dengan suaminya. Apalagi saat ia mengetahui bahwa Malin Kundang yang kini telah dewasa, juga ingin merantau ke kota besar. Malinbertekad untuk membantu kehidupan Bundanya. Tak tega dengan kegigihan Malin, dengan berat hati, Mande Rubayah mengizinkannya untuk merantau ke kota lain. 

Mande Rubayah yang ditinggalkan oleh suami, kini harus rela juga ditinggalkan oleh sang anak. Tahun demi tahun berganti, Malin juga tidak kunjung memberikan kabar kepada dirinya, Sampai suatu hari tetangga mereka melihat sosok termasyhur yang mirip dengan Malin.

Mande Rubayah, aku melihat sosok kaya raya dan tampan di pesisir pantai. Lelaki itu mirip dengan anakmu Malin.”, ujar seorang tetangga Mande Rubayah. Setelah menerima informasi tersebut, dirinya mencari kebenaran kabar tersebut.

Malin! Malin, ini ibu, nak. Ibu rindu sekali kepada Malin.”

Mendengar suara Mande Rubayah, seorang perempuan menyahut. “Kau ibunda dari Suamiku?”, Perempuan itu akhirnya mencari Malin dan menanyakannya.

Malin, apakah benar perempuan ini Ibunda-mu?

Tak disangka, Malin yang sudah kaya raya dan sukses dengan bisnis yang dijalankan di kota besar, merasa malu memiliki Ibunda yang terlihat kumuh dan miskin.

Bukan, perempuan itu bukan ibuku.”, ujar Malin kemudian. Malin memilih untuk tidak menganggap Mande Rubayah sebagai Ibundanya.

“Malin, mengapa kau tega dengan Ibu?” Mande Rubayah menangis melihat perlakuan anaknya.

Akhir Kisah Malin Kundang

dongeng malin kundang

Bunda Malin Kundang benar-benar merasa kecewa dengan perlakuan sang anak. Mande Rubayah akhirnya memanjatkan doa kepada Tuhan agar Malin Kundang mendapatkan hukuman karena telah menyakiti hatinya.

Sehari setelah Mande Rubayah memanjatkan doa, banyak kejadian yang menyeramkan menimpa Malin. Saat Malin Kundang pergi berlayar, kapalnya diterjang badai, hujan deras dan ombak yang tinggi menghantam kapalnya. 

Untuk beberapa saat, kapal miliki Malin Kundang terombang-ambil di lautan lepas. Hingga akhirnya sampai ke sebuah pulau tak berpenghuni. Kapal tenggelam dan Malin Kundang berubah menjadi batu dimulai dari tangannya.

Merasa kaget dengan hal yang menimpanya, Malin mencoba berdoa memohon ampun. Namun, semuanya sudah terlambat, akhirnya Malin berubah menjadi batu dalam keadaan bersujud. 

Masyarakat percaya kalau saat ini, tubuh Malin Kundang yang berubah menjadi patung dan batu, masih ada di daerah Sumatera Barat.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Pesan moral yang bisa Bunda dapatkan dari cerita diatas adalah pentingnya restu orang tua. Anak-anak juga harus menyayangi orang tua, sebagaimana orang tua menyayangi dan merawatnya dengan tulus. Dan juga, jangan membuat orang tua sedih!

Itulah dongeng Malin Kundan si Anak Durhaka yang bisa Bunda ceritakan ke si kecil. Semoga si kecil terhibur dan dapat mempelajari pesan moralnya, ya Bund!

Baca juga: