Penulis: Diana | Editor: Aufia

Sudah pernah dengar tentang tari Jaipong, Bund? Tari Jaipong merupakan tarian tradisional yang berasal dari Karawang, Jawa Barat dan masih eksis hingga saat ini.

Tarian yang dimainkan dengan gaya energi dan suasana yang humoris ini sebenarnya merupakan gabungan dari sejumlah kesenian tradisional misalnya pencak silat, wayang golek, dan ketuk tilu. Tak heran kalau tari Jaipong memiliki gerakan-gerakan yang unik.

Dalam buku ‘Asal-Usul dan Perkembangan Jaipongan Jawa Barat’ tertulis bahwa Jaipongan merupakan salah satu genre tari untuk semua karya-karya Gugum Gumbira Tirasondjaja semenjak tahun 1976. 

Nah, berikut ulasan lengkap mengenai sejarah dan filosofi gerakan tari Jaipong. Yuk, simak!

Sejarah Tari Jaipong

Seperti yang sudah Catatan Bunda uraikan, bahwasanya Tari Jaipong ini merupakan tarian modern hasil dari modifikasi dan pegembagan tari tradisional Sunda, Ketuk Tilu.

Lalu, siapakah yang menciptakan Tari Jaipong? Yup, Gugum Gumbira Tirasondjaja. Beliau adalah putra dari pasangan seniman yang tinggal di lingkungan seniman. Itulah kenapa, Beliau sangat akrab dengan kesenian tradisional. 

Sebagai pecinta dansa, Beliau kebingungan ketika pada tahun 1965 Presiden Soekarno mengumumkan adanya larangan mengikuti kesenian asing. Karena itulah pada Gugum dan teman-temannya kembali menekuni seni tradisional. Tak hanya itu saja, pada periode tahun 1967-1974 , mereka melakukan survei untuk mengetahui dan memahami kesenian apa saja yang ada di Jawa Barat.

Setelah melakukan pengamatannya di berbagai daerah di Jawa Barat, Gugum menarik kesimpulan bahwa esensi seni tradisional Jawa Barat dibagi menjadi tiga yaitu Tari Tayub, Silat, dan Ketuk Tilu

Ketiga taran itulah yang kemudian dimodifikasi dan dikembangkan menjadi tari Ronggeng Ketuk Tilu. Pada mulanya tarian ini merupakan tarian pasangan, kemudian berkembang hingga berhasil dipentaskan di Hongkong pada tahun 1979.

Sejak saat itu, Tari Ronggeng Ketuk Tilu semakin dikenal masyarakat dan sering ditampilkan dalam berbagai festival. Di tengah perjalanan, Tari Ronggeng Ketuk Tilu, Gugum memutuskan untuk mengganti nama tarian tersebut.

Nama Jaipong sendiri tercetus ketika beliau menonton pertunjukan Topeng Banjet Dewi Asmara yang dibawakan langsung oleh Ijem dan Ali Syahban. Dalam pementasan tersebut, ada sebuah ucapan ‘Jaipong’, bentuk kata untuk meniru bunyi pukulan gendang yang terdengar seperti “blaktingpong”

Filosofi Dibalik Gerakan Tari Jaipong

Uniknya; tari jaipong ini terdiri dari 3 jenis yaitu tari Jaipong Putri, Jaipong Putra, dan Jaipong Pasangan. Setiap tari tersebut memiliki gerakan dan makna filosofinya tersendiri. Mau tahu apa saja? Ini penjelasannya:

1. Tari Jaipong Putri

Mengenal Sejarah Tari Jaipong dan Makna Filosofi Gerakannya

Terdapat empat jenis Tari Jaipong putri, yaitu:

    • Keser Bojong: merupakan tarian yang bermakna kehidupan dan ungkapan tentang pergeseran nilai-nilai kehidupan dalam mencapai suatu tujuan.
    • Setrasari: merupakan tarian yang berhubungan dengan kehidupan dan mengilustrasikan proses perubahan perilaku dari negatif menuju ke arah positif.
    • Rawayan: memiliki makna sebuah jembatan gantung yang terbuat dari kayu atau bambu. Apabila terinjak, tentu akan bergoyang.
      Tarian ini juga berhubungan erat dengan fenomena budaya, seperti jembatan yang secara simbolis merupakan lambang peralihan dari era tradisi ke era kreasi.
      Pada gerakan ini terdapat motif lambat dengan jangkauan panjang serta pengaturan tenaga yang relatif lebih halus.
    • Kawung Anten: merupakan tarian yang erat hubungannya dengan pertahanan diri. Di sini gerakannya melambangkan wanita dan remaja putri yang sedang berlatih perang demi kemajuan negara.

Tari Jaipong Putra

Mengenal Sejarah Tari Jaipong dan Makna Filosofi Gerakannya

Berbeda dengan Tari Jaipong Putri, gerakan Tari Jaipong Putra ini berupa gerakan pencak silat dan kuda-kuda. Salah satu jenisnya adalah Pencug Bojong, gerakan yang menunjukkan seorang laki-laki dengan keterampilan menari. Tarian ini bisa dimainkan secara tunggal maupun kelompok, lho!

Selain itu, Pada tari Jaipong Putra juga terdapat gerakan emprak. Gerakan ini menceritakan tentang pertahanan diri ‘sosok juara’ ketika berada pada posisi terhimpit. Gerakan inilah yang tidak muncul di tari putri.

Tari Jaipong Pasangan

Mengenal Sejarah Tari Jaipong dan Makna Filosofi Gerakannya

Tari Jaipong Pasangan menceritakan tentang cerita percintaan. Di mana seorang ronggeng (penari wanita) menghadapi godaan dari seorang bajidor (penari pria). Contoh dari Tari Jaipong Pasangan adalah Rendeng Bojong dan Toka-Toka. Keduanya mengilustrasikan perempuan dan laki-laki yang saling melengkapi.

Itulah sejarah dan makna filosofi dari tiap gerakan Tari Jaipong. Bunda tertarik untuk mempelajarinya? Oh iya, selamat mengajarkan ulasan ini ke buah hati, Bund!

Baca Juga: