Penulis: Siti Rulli | Editor: Aufia

Selain terkenal akan sisi religiusnya, Provinsi Aceh juga mempunyai produk kebudayaan yang beragam, seni tari salah satunya. Tak hanya tersohor di Indonesia saja, tarian tradisional Aceh juga terkenal hingga mancanegara. 

Tarian adat dari provinsi yang dijuluki “Serambi Mekkah” ini dikenal mengusung konsep religi. Kenapa demikian? Karena pada jaman dahulu, para ulama menjadikan tarian sebagai media penyebaran agama Islam. Sementara ciri khas paling menonjol dari tarian adat Aceh adalah konsepnya yang energik dan dilakukan secara berkelompok.

Kira-kira apa saja ya tarian tradisional dari tanah Aceh? Yuk, simak ulasan lengkap di bawah ini!

1. Tari Saman

tarian tradisional aceh

Pasti Bunda tak asing dengan Tari Saman? Menurut sejarah, tarian lokal suku Gayo ini dibawa oleh Syekh Saman untuk menyebarkan agama Islam di Aceh. Itulah alasan kenapa bernama Tari Saman. Hingga saat ini tari Saman masih dilestarikan masyarakat Aceh dan biasanya ditarikan dalam acara festival atau perlombaan.

Satu hal yang menarik dari tarian ini, yaitu sama sekali tidak menggunakan iringan alat musik. Latar suaranya berasal dari lantunan tepuk tangan sang penari. Dan tahukah Bunda, Tari Saman sudah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda, loh!

2. Tarian Seudati

Berbeda dengan Tari Saman yang penarinya duduk di lantai, Tari Seudati dimainkan dengan berdiri. Penarinya harus laki-laki dan umumnya berjumlah 8 orang. Selain itu ada juga 2 orang penyanyi sebagai pengiring dalam tarian.

Tari yang berasal dari pesisir Aceh ini diperkenalkan oleh para penyebar agama Islam dari jazirah Arab. Sehingga namanya pun juga menggunakan istilah Arab yaitu Syahadati dan shahada.

Dulu, saat era kolonialisme, tarian ini sempat dilarang oleh pemerintah Belanda karena termasuk Tari Perang Kaum. Di mana syair-syair yang dibawakan para penari dapat membangkitkan patriotisme pemuda aceh dalam melawan penjajah.

3. Tari Laweut

Tarian dari Kabupaten Pidie juga dikenal sebagai Tari Seudati Inong, atau Tari Seudati yang dibawakan perempuan. Dengan demikian, pola gerakan dan jumlah penari Laweut sama persis seperti Tari Seudati. Kata ‘laweut’ sendiri berasal dari bahasa Arab ‘shalawat’, jadi syair yang dilantunkan berupa ayat-ayat Al-Quran dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

4. Tari Tarek Pukat

tarian tradisional aceh

Berasal dari kabupaten Aceh Besar, Tari Tarek Pukat (menarik jala) merepresentasikan kehidupan nelayan di Provinsi Aceh. Tarian ini umumnya dilakukan oleh masyarakat pesisir. Pola gerakannya menggambarkan seorang nelayan ketika menagkap ikan di laut. 

Tari Tarek Pukat bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Ciri khasnya adalah menggunakan atribut berupa tali. Biasanya ditampilkan dalam upacara adat, penyambutan tamu maupun berbagai pertunjukan budaya.

 5. Tari Ratoh Duek

tarian tradisional aceh

Secara etimologi, kata ‘ratoh’ berasal dari bahasa Arab ‘rateb’ yang artinya melakukan doa dan pujian kepada Allah SWT dan Rasulullah melalui puisi yang dinyanyikan. Sementara ‘duek’ berarti ‘sedang duduk’. Jadi Ratoh Duek dapat diartikan sebagai seni tari yang dilakukan dengan duduk sembari memuji asma Allah dan Rasulullah.

Tarian ini tidak menggunakan atribut apapun, instrumennya berasal lantunan syair oleh para penari. Umumnya para penari mengenakan kain polos dengan panduan songket, ikat pinggang dan hiasan kepala. Gerakannya hampir mirip dengan Tari Saman, sehingga seringkali orang keliru menyebutnya. Padahal kedua tarian tersebut berbeda.

6. Tari Guel

tarian tradisional aceh

Ini dia tarian yang sangat estetik; memadukan seni musik, seni sastra, dan seni tari. Tari tradisional Suku Gayo di Aceh ini hanya dilakukan pada upacara tertentu. Penarinya berjumlah 2-4 pria dan 8-10 wanita. Diiringi dengan minimal 4 musisi yang memainkan gong, canang, memong dan gegedem.

Tari Guel sebenarnya terinspirasi dari harmonisasi alam dan lingkungan. Tiap gerakan penari merepresentasikan makna tertentu. Gerakan penari pria lebih mendominasi dan mereka selalu muncul sebagai primadona (melambangkan keselamatan Baroe dan Guru Didong).

7. Tari Rapa’i Geleng

tarian tradisional aceh

Kata ‘rapai’ berasal dari nama alat musik yang mirip gendang atau sering kita sebut rebana. Sedangkan ‘geleng’ bermakna gerakan kepala yang ‘geleng-geleng’. Tarian yang berasal dari Manggen, Aceh Selatan ini umumnya dibawakan oleh sekelompok laki-laki.

Mengusung konsep media peribadatan, tak heran jika lantunan syair-syair yang mengiringi Tari Rapa’i Geleng berupa syair-syair keagamaan. Gerakannya yang energik mampu menjadi media untuk menyampaikan pesan moral.

8. Tari Likok Pulo

Tarian tradisional yang berasal dari desa Ulee Paya, Kabupaten Aceh Besar ini merupakan tari hiburan atau pertunjukan. Umumnya pada acara upacara adat dan setelah menanam padi. 

Hampir sama dengan Tari Saman, penari Likok Pulo menari dalam posisi duduk bersimpuh. Pola gerakannya hanya menggunakan anggota gerak bagian atas, kepala, tangan dan badan. Penari utamanya disebut syekh dan diiringi dua penabuh rebana di belakang atau sisi kanan, kiri penari.

Itulah tarian tradisional Aceh dan ciri khasnya yang harus kita tahu, Bund. Semoga bisa menambah wawasan Bunda ya. Dan alangkah baiknya jika kita mengenalkan ragam tarian tersebut ke si kecil, sebagai wujud nasionalisme.

Baca Juga:

Sumber